Tampilkan postingan dengan label Santapan Rohani. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Santapan Rohani. Tampilkan semua postingan

Rabu, 29 Juli 2009

DOA ITU SEBUAH KEBUTUHAN

Suatu waktu di gereja, seorang pendeta bertanya kepada satu keluarga, “Apakah kalian melakukan doa bersama?” “Maaf, Pak pendeta,” jawab kepala keluarga itu, “ kami tidak punya waktu untuk itu.” Pendeta itu berkata, ”Seandainya kamu tahu salah seorang anakmu akan sakit, apakah kalian tidak berdoa bersama memohon kesembuhannya?” “Oh, tentu kami akan berdoa,” jawab sang ayah. “Seandainya kamu tahu bahwa ketika kamu tidak berdoa bersama, salah satu anakmu akan terluka dalam kecelakaan, apakah kamu tidak akan berdoa bersama?” “Kami pasti akan melakukannya.” “ Seandainya untuk tiap hari kamu lupa berdoa, kamu akan dihukum lima ratus ribu, apakah kamu akan berdoa?” “Tentu Pak, kami akan berdoa bersama. Tapi maaf, apa maksud pertanyaan-pertanya an tadi?” “Begini pak, saya pikir masalah keluarga anda bukan soal waktu. Buktinya anda ternyata selalu punya waktu untuk berdoa. Masalahnya adalah, Anda tidak menganggap doa keluarga itu penting, sepenting membayar denda atau menjaga agar anak-anak tetap sehat.”

Doa seharunsya menjadi kunci pembuka di pagi hari dan gembok pelindung di malam hari. Doa memberi kekuatan kepada orang lemah, membuat orang tidak percaya menjadi percaya, dan memberi keberanian kepada orang yang takut.. Jika kita berdoa saat kesulitan, doa itu akan meringankan kesulitan kita. Jika kita berdoa pada saat gembira, doa itu akan melipatgandakan kegembiraan kita.

Bila akhir-akhir ini kita tidak atau jarang berdoa, sekaranglah waktunya untuk memulai kembali. Komunikasi langsung dengan Tuhan melalui doa dapat menciptakan keajaiban bagi diri kita sendiri dan bagi orang lain.

Satu hari yang dilipat dalam doa tidak akan mudah dikoyakkan.

Dalam segala doa dan permohonan. Berdoalah setiap waktu di dalam roh.

( Efesus 6:18a )

Tuhan Yesus Memberkati..

Senin, 20 Juli 2009

Ia Memanggil Orang Yang Dikehendaki-Nya

“Kemudian naiklah Yesus ke atas bukit. Ia memanggil orang-orang yang dikehendaki- Nya dan mereka pun datang kepada-Nya. Ia menetapkan dua belas orang untuk menyertai Dia dan untuk diutus-Nya memberitakan Injil dan diberi-Nya kuasa untuk mengusir setan. Kedua belas orang yang ditetapkan-Nya itu ialah: Simon, yang diberi-Nya nama Petrus, Yakobus anak Zebedeus, dan Yohanes saudara Yakobus, yang keduanya diberi-Nya nama Boanerges, yang berarti anak-anak guruh, selanjutnya Andreas, Filipus, Bartolomeus, Matius, Tomas, Yakobus anak Alfeus, Tadeus, Simon orang Zelot, dan Yudas Iskariot, yang mengkhianati Dia” (Mrk 3:13-19), demikian kutipan Warta Gembira hari ini.

Berrefleksi atas bacaan-bacaan hari ini saya sampaikan catatan-catatan sederhana sebagai berikut:

Yesus memanggil dua belas orang yang dikehendakiNya untuk mengikutiNya secara khusus, menjadi rasul-rasulNya, senantiasa hidup bersamaNya dengan meninggalkan segala sesuatu yang dimiliki mereka. Hidup terpanggil sesuai kehendak Tuhan, itulah yang kiranya layak kita renungkan atau refleksikan. Hidup sebagai imam, bruder atau suster, suam-isteri, pekerja atau pelajar, dst. hemat saya juga merupakan panggilan sebagaimana dikehendaki oleh Tuhan, maka marilah kita mawas diri perihal panggilan kita masing-masing. Sebagai yang terpanggil kita harus melaksanakan kehendak Tuhan dan meninggalkan kemauan, keinginan atau kehendak diri sendiri. Kehendak Tuhan antara lain dapat kita temukan dalam janji-janji yang pernah kita ikrarkan. (1) Sebagai imam kita berjanji untuk hidup tidak menikah dan tidak menikmati hal-hal atau kenikmatan yang erat kaitannya dengan kenikmatan yang dihayati oleh suami-isteri, serta taat kepada Uskup atau Pembesar kita, (2) sebagai bruder atau suster atau biarawan kita berkehendak untuk mempersembahkan diri seutuhnya kepada Tuhan dengan menghayati keutamaan kaul ketaatan, kemurnian dan kemiskinan, (3) sebagai suami-isteri kita telah meninggalkan orangtua kita masing-masing dan menjadi ‘satu daging’ sebagai suami-isteri, saling mengasihi sampai mati, (4) sebagai pekerja atau pelajar kita berjanji untuk melaksanakan aneka aturan dan tatanan dalam kerja atau belajar. Kita semua dipanggil untuk hidup dan bertindak sesuai dengan charisma atau spiritualitas ‘lembaga’ dimana kita bergabung. Marilah kita saling membantu dan mengingatkan dalam menghayati panggilan kita masing-masing. Karena panggilan itu kita imani merupakan anugerah Allah atau datang dari Allah, maka untuk berusaha setia pada panggilan antara lain tidak melupakan untuk senantiasa berkomunkasi dengan Allah alias berdoa, entah secara pribadi atau bersama-sama.

"Aku akan menaruh hukum-Ku dalam akal budi mereka dan menuliskannya dalam hati mereka, maka Aku akan menjadi Allah mereka dan mereka akan menjadi umat-Ku.Dan mereka tidak akan mengajar lagi sesama warganya, atau sesama saudaranya dengan mengatakan: Kenallah Tuhan! Sebab mereka semua, besar kecil, akan mengenal Aku. Sebab Aku akan menaruh belas kasihan terhadap kesalahan mereka dan tidak lagi mengingat dosa-dosa mereka."(Ibr 8:10-12), demikian janji Allah kepada kita semua yang terpanggil. “Hukum Tuhan atau kehendak Tuhan” ada di dalam akal budi kita dan tertulis dalam hati kita, maka kita dipanggil untuk memiliki cara berpikir dan berkehendak sebagaimana dikehendaki oleh Tuhan, bukan mengikuti pikiran atau kehendak sendiri alias ‘semau gue’ atau ‘seenaknya sendiri’. Karena Tuhan hidup dan berkarya dalam diri kita yang lemah dan rapuh ini, maka antar kita tidak ada seorangpun yang saling melecehkan atau menyalahkan, melainkan yang terjadi adalah saling mengasihani dan mengampuni. Kita tidak akan mengingat-ingat kesalahan sesama atau saudara-saudari kita maupun diri sendiri, karena Tuhan telah menganugerahi kita kasih pengampunan secara melimpah ruah. Kita semua dipanggil untuk saling melihat, mengakui dan mengimani apa yang baik, luhur, mulia dan suci yang ada di dalam diri kita masing-masing dan sesama kita alias senantiasa berpikiran positif (‘positive thinking’), dan kemudian mensinerjikannya demi kebahagiaan dan kesejahteraan hidup bersama. Untuk semakin terampil mengenali kehendak Tuhan hendaknya setiap hari melakukan pemeriksaan batin secara pribadi, dan mungkin secara periodik bersama-sama dalam keluarga atau komunitas dengan mengadakan ‘percakapan bersama dalam Tuhan’. Marilah kita saling boros waktu dan tenaga kepada saudara-saudari kita yang terkasih untuk bercakap-cakap bersama dalam Tuhan, bertukar pengalaman akan karya Tuhan dalam diri kita masing-masing.

“Sesungguhnya keselamatan dari pada-Nya dekat pada orang-orang yang takut akan Dia, sehingga kemuliaan diam di negeri kita. Kasih dan kesetiaan akan bertemu, keadilan dan damai sejahtera akan bercium-ciuman. Bahkan TUHAN akan memberikan kebaikan, dan negeri kita akan memberi hasilnya. Keadilan akan berjalan di hadapan-Nya, dan akan membuat jejak kaki-Nya menjadi jalan “ (Mzm 85:10-11-13. 14).


Jakarta, 23 Januari 2009

Pastor Ign Sumarya SJ

Tulisan ini disadur dari kiriman sahabat_seiman_kristen@yahoogroup.com

MENGAPA TUHAN MEMBERI KITA MASALAH?

Masalah-masalah yang kita hadapi bisa membuat kita jatuh atau bertumbuh, tergantung dari bagaimana cara kita menanggapinya. Sangat disayangkan banyak orang gagal untuk melihat bagaimana Tuhan menggunakan masalah untuk kebaikan mereka. Mereka lebih memilih untuk bertindak bodoh dan membenci masalah-masalah mereka daripada menghadapi dan merenungkan kebaikan apa yang bisa mereka dapat dari

masalah-masalah tersebut. Ada lima cara Tuhan menggunakan masalah-masalah dalam kehidupan kita untuk menjadi sesuatu kebaikan bagi kita:

1) Tuhan menggunakan masalah untuk MENGARAHKAN kita. Kadang-kadang Tuhan harus menyalakan api di bawah kita untuk membuat kita tetap bergerak. Sering kali masalah yang kita hadapi akan mengarahkan kita ke arah yang baru dan memberikan kita motivasi untuk berubah. Ada kalanya masalah menjadi cara yang Tuhan pakai untuk menarik perhatian kita.

2) Tuhan menggunakan masalah untuk MENGUJI kita. Manusia bagaikan teh celup… jika anda ingin tahu apa yang ada di dalamnya, celupkan saja ke dalam air panas! Tuhan kadang ingin menguji kesetiaan kita melalui masalah-masalah yang kita hadapi. "Saudara-saudaraku, anggaplah sebagai suatu kebahagiaan, apabila kamu jatuh ke dalam berbagai-bagai pencobaan, sebab kamu tahu, bahwa ujian terhadap imanmu itu menghasilkan ketekunan." (Yakobus 1:2-3).

3) Tuhan menggunakan masalah untuk MENGOREKSI kita. Ada pelajaran-pelajaran yang hanya dapat kita pelajari melalui penderitaan dan kegagalan. Mungkin waktu kita masih kecil orang tua kita mengajar kita untuk tidak boleh menyentuh kompor yang panas. Tetapi mungkin kita baru benar-benar belajar justru setelah tangan kita terbakar. Kadang-kadang kita baru bisa menghargai sesuatu… kesehatan, teman, hubungan…, saat kita sudah kehilangan. "Bahwa aku tertindas itu baik bagiku, supaya aku belajar ketetapan-ketetapan -Mu." (Mazmur 119:71).

4) Tuhan menggunakan masalah untuk MELINDUNGI kita. Suatu masalah bisa menjadi berkat jika masalah tersebut menghindarkan kita dari bahaya. Tahun lalu ada seorang Kristen yang diberhentikan dari pekerjaannya karena ia menolak untuk melakukan sesuatu yang tidak etis bagi bossnya. Ia menjadi mengganggur, tetapi justru dari masalah itulah ia terhindar dari ditangkap dan dimasukan ke dalam penjara,karena setahun kemudian tindakan boss itu terbongkar. "Memang kamu telah mereka-rekakan yang jahat terhadap aku, tetapi Allah telah mereka-rekakannya untuk kebaikan…" (Kejadian 50:20).

5) Tuhan menggunakan masalah untuk MENYEMPURNAKAN kita. Jika kita menanggapi masalah dengan cara dan pandangan yang benar, masalah tersebut bisa membentuk kita. Tuhan lebih memperhatikan karakter kita daripada kenyamanan kita. Hanya hubungan kita dengan Tuhan yang akan kita bawa sampai kekal. " … Kita malah bermegah dalam kesengsaraan kita, karena kita tahu, bahwa kesengsaraan itu menimbulkan ketekunan, dan ketekunan menimbulkan tahan uji dan tahan uji menimbulkan pengharapan. Dan pengharapan tidak mengecewakan, karena kasih Allah telah dicurahkan di dalam hati kita oleh Roh Kudusyang telah dikaruniakan kepada kita." (Roma 5:3-4)


Sumber: sahabatseiman_kristen@yahoogroup.com

Rabu, 15 Juli 2009

Santapan Rohani


"Diberkatilah engkau di kota dan diberkatilah engkau di ladang."

Pagi ini ketika saya bangun, sebuah pertanyaan hadir di dalam hati saya, yang kira-kira berbunyi, "apakah yang paling kamu perlukan saat ini." Saya menjawab dalam hati saya, yang paling saya perlukan adalah penyertaan Tuhan, agar Tuhan memberkati setiap usaha dan pekerjaan saya, agar Tuhan berkenan pada segala sesuatu yang saya lakukan. Soal harta kekayaan, biarlah itu menjadi bagian Tuhan, karena saya tidak mau kaya jika tidak ada penyertaan Tuhan di dalamnya, di dalam hidup saya dan di dalam keluarga saya. Meskipun saya tahu bahwa Tuhan sanggup, dan sudah menjanjikan sebuah hidup yang berkelimpahan bagi siapapun yang menerima Kristus (Yohanes 10:10), tapi saya hanya mau menerimanya jika saya sudah dianggap layak dan mampu bertanggung jawab terhadap segala sesuatu yang dipercayakan Tuhan pada saya. Bagi saya, penyertaan Tuhan yang mencukupkan segala sesuatu yang kami butuhkan, itu sudah lebih dari cukup. Kami tidak butuh sesuatu yang berlebihan, kami juga tidak ingin sampai kekurangan. Cukup. Itu saja, dan saya percaya penyertaan Tuhan akan selalu mencukupkan segala sesuatu. Haleluya. Itu fakta yang menjadi bagian hidup saya hingga hari ini. Saya tidak berlebihan, tapi juga tidak kekurangan. Saya cukup makan, saya bisa berusaha dan bekerja, saya bisa bersukacita, ada Tuhan yang bertahta di atas keluarga, dan itu jauh lebih indah dibandingkan sebuah kekayaan berlimpah tapi tanpa rasa sukacita, bahagia, damai dan sebagainya, yang bisa terjadi jika tidak ada penyertaan Tuhan, dan tanpa berkat Tuhan turun atas segala sesuatu yang kita hasilkan. Panjang lebar saya menjawab dalam hati, intinya adalah saya hanya membutuhkan "penyertaan Tuhan". Dan begitu saya selesai menjawab, sebuah motor melintas di depan saya dengan sebuah stiker bertuliskan: "working to win". Saya merasakan sebuah sukacita dalam hati saya.

Ayat hari ini berbicara, jika kita mendengarkan suara Tuhan, melakukan dengan setia segala perintahNya, maka pekerjaan dan kehidupan kita akan diberkati. (Ulangan 28:1-3). Tidak berhenti sampai disitu saja, bahkan berbagai berkat lain susul menyusul hingga ayat 14. Sebaliknya, ayat 15-46 berbicara mengenai kutuk, yang akan turun ketika kita tidak mendengarkan suara Tuhan dan tidak melakukan perintah/ketetapanNya. Kembali pada ayat 3, kata diberkati disana tidak hanya berhenti pada masalah kelimpahan materi, tapi saya percaya itu lebih luas lagi. Berkat Tuhan juga menyangkut akan terbukanya kesempatan-kesempatan, hikmat yang turun atas kita agar bisa berhasil, bahkan kuasa untuk menikmati pun adalah karunia dari Tuhan. "Setiap orang yang dikaruniai Allah kekayaan dan harta benda dan kuasa untuk menikmatinya, untuk menerima bahagiannya, dan untuk bersukacita dalam jerih payahnya--juga itupun karunia Allah." (Pengkotbah 5:19). Alangkah sempitnya pikiran kita jika kita hanya berhenti pada sebuah kekayaan materi saja. Perkataan Tuhan memberkati baik di kota maupun di ladang juga berbicara mengenai adanya penyertaan Tuhan, sehingga berkatNya turun atas kita. Bayangkan jika kita memperoleh uang dengan jalan pintas seperti korupsi, penipuan, pemerasan dan lain-lain. Harta bisa banyak, tapi tidak ada berkat diatasnya, sehingga hidup kita pun tidak akan pernah damai sejahtera. Bayangkan pula jika tidak ada kesempatan yang terbuka bagi kita. Jangankan berusaha, peluang pun tidak ada. Atau bayangkan ini: segala yang dimiliki tidak bisa dinikmati. Harta datang dan pergi, seperti roller coaster, orang menjadi hamba uang, hanya memikirkan untuk menumpuk uang tapi tidak mendapat kebahagiaan dan kedamaian apapun dari itu semua. Saya pribadi tidak ingin demikian. Saya hanya ingin ada penyertaan Tuhan dalam setiap usaha dan perbuatan saya, dalam hidup saya, menaungi keluarga saya. That's all. Dengan adanya berkat Tuhan, saya bisa berusaha, saya bisa "work to win", segalanya dicukupkan agar saya bisa maksimal, sehingga apapun nantinya yang saya hasilkan adalah yang terbaik, sesuai dengan kehendak Tuhan.

Dalam beribadah pun demikian. "Tetapi jauhilah takhayul dan dongeng nenek-nenek tua. Latihlah dirimu beribadah." (1 Timotius 4:7). Beribadah pun perlu proses pembiasaan diri agar rajin berdoa, saat teduh atau membaca serta mendalami Alkitab. Selanjutnya bagaimana melakukan apa yang kita dengar dan baca dari firman Tuhan untuk diterapkan dalam hidup sehari-hari. Semua itu butuh proses. Life is a process. Dalam setiap proses itu, adalah penting untuk memastikan bahwa penyertaan Tuhan ada di sana hingga akhir. Bekerjalah sungguh-sungguh, hiduplah dengan benar. Hal-hal lain akan dengan sendirinya mengikuti, dan saya tahu pasti bahwa segala sesuatu dimana ada penyertaan Tuhan didalamnya akan menghasilkan sesuatu yang baik, bahkan luar biasa. Let God be with you, and bless you, in everything you do. The rest will follow.

Semua sia-sia tanpa penyertaan Tuhan